Ramadhan. Kalau kita mendengar kata Ramadhan, pasti pikiran kita tertuju kepada puasa, sesuatu yang dikerjakan oleh umat muslim sedunia, dan kepada hal-hal yang ada sangkutpautnya dengan bulan itu, seperti lebaran, ketupat, tarawih, , sahur, bedug, dan masih banyak yang lainnya yang memang tidak dapat kita pisahkan.
Ramadhan, bulan yang suci yang dipenuhi dengan karunia Allah, tidak peduli entah bagi si kaya ataupun si miskin . Karena di hari itu semua orang yang mengharap ridha Allah dan beriman kepada-Nya merasakan hal yang sama yaitu lapar dan haus.
Ramadhan, bulan yang dikata suci dan memang benar-benar suci yang diharamkan pertumpahan darah di dalamnya.
Ramadhan, bulan yang di dalamnya tidur menjadi ibadah, dan hembusan nafas menjadi tasbih.
Ramadhan, bulan yang suci bagi orang-orang yang mensucikannya, yang diiringi oleh hari yang suci pula yakni Hari Raya Idul fitri. Hari kemenangan bagi orang-orang yang telah memenjarakan hawa nafsunya dengan berpuasa.
Dan puasa adalah ibadah yang istimewa karena tidak ada yang bisa membedakan, apakah orang itu berpuasa ataukah tidak. Lain halnya dengan ibadah-ibadah lainnya, yang dapat dilihat oleh mata. Yang dapat menimbulkan riya, suatu perbuatan tercela dan dicela yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya kurang lebih sebagai berikut:"Ada dua saat bahagia yang ditemui oleh orang yang berpuasa. Pertama, saat ia berbuka. Dan kedua, saat ia bertemu dengan tuhannya". Yang dimaksud dengan bertemu dengan tuhannya disini adalah sebuah nikmat yang tiada bandingannya yang didapat oleh orang yang berpuasa di akhirat kelak (semoga kita termasuk di dalamnya).
Dan mungkin bulan Ramadhan mempunyai makna tersendiri bagi sejumlah orang. Tinggal bagaimana cara orang itu menanggapinya. Dan seperti tahun-tahun yang lalu, Ramadhan kali ini kurasa berlalu dengan begitu cepat. Dan meninggalkan secercah cahaya di hati ini.
Dan terakhir kukatakan, Ramadhan pun tenggelam seiring dengan berjalannya sang waktu. Namun, masih ada Ramadhan-Ramadhan lainnya yang menunggu kita. Tapi, dapatkah kita menjamin ruh kita ini masih bersemayam di jasadnya di Ramadhan berikutnya???







2 Kata Hati Mereka:
Yang perlu dipikirkan sekarang ialah, apakah puasa yang telah susah payah kita lakukan itu telah berhasil atau seperti yang dikatakan Rasul: "hanya mendapat lapar dan haus".
@ Zian X-Fly: Yaah, ceramah ni orang. Terseranh gue kan mau mosting apa. Kan buat lomba...
Poskan Komentar